Humor Pendidikan

Gelar dari Minang

Usman Chaniago, supir camat di Payakumbuh, minta berhenti karena ingin merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Mula-mula dia bekerja sebagai tukang kantau di Tanah Abang, setelah dapat mengumpulkan sedikit modal dimulai pula menggelar dagangannya di pinggir jalan di Tanah Abang.

Nasib rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar. Dia pun berkeluarga dan memiliki 2 anak. Bahkan tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan dosen UI.

Karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada Phd. dll. Usman merasa malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya.

Dibuatlah papan naman dari perak, dipesan dari Koto Gadang, dengan nama DR. Usman Chaniago MSc.

Ketika ayahnya datang berkunjung, sambil bangga dia bertanya di mana anaknya kuliah, sebab setahu dia, Usman hanya berdagang.

Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama, “Nama itu artinyo ‘Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat’.”

Mengajar Murid SD tentang Bahaya Alkohol

Suatu pagi yang indah di sebuah sekolah dasar,seorang Pak Guru yang begitu berdedikasi sedang mengajar murid-muridnya tentang betapa bahayanya minuman keras kepada mereka.

Sebelum memulai mata pelajarannya pada hari itu dia telah mengambil 2 ekor cacing yang hidup, sebagai sampel kehidupan dan dua gelas minuman yang masing-masing berisi dengan air mineral dan Whiskey yang mengandung kadar alkohol tinggi.
“Coba perhatikan anak-anak! Lihat bagaimana saya akan memasukkan cacing ini kedalam gelas, perhatikan betul-betul. Cacing yang sebelah kanan saya, akan saya masukkan ke dalam air mineral manakala cacing yang sebelah kiri saya akan masukkan ke dalam Whiskey. Perhatikan betul-betul!”

Semua mata tertumpu pada kedua ekor cacing itu. Seperti diperkirakan, cacing yang berada dalam gelas yang berisi air mineral itu berenang-renang di dasar gelas, manakala cacing yang berada di dalam whiskey menggeliat lalu mati.

Pak Guru tersenyum lebar, apabila melihat murid-muridnya memberikan perhatian sepenuh hati pada pelajaran praktek yang dia berikan.
“Baiklah anak-anak, apa yang kamu dapat pelajari dari praktek yang Pak Guru tunjukkan tadi??”

Dengan penuh keyakinan murid-muridnya menjawab, “UNTUK MENGHINDARI CACINGAN…MINUMLAH WHISKEY!”

 

Pelajaran Bahasa Indonesia, Lawan Kata

Dari Wakakapedia, ensiklopedia humor bebas berbahasa Indonesia.

Guru : Hari ini kita belajar Antonim, yaitu lawan kata. Contohnya: Kuat lawannya lemah.
Sudah mengerti semua, anak-anak? Ok, sekarang kita praktek, Kalau ibu sebutkan kata
kalian jawab lawan katanya yah..

Murid: Ya buuuu!.

Guru: Siang.

Murid: Malam.

Guru: Panjang

Murid: Pendek
Guru: Gelap

Murid: Terang

Guru: Halus

Murid: Kasar

Guru: Berjaya

Murid: Menang

Guru: Salah!!!

Murid: Benar

Guru: Bukan itu..!!

Murid: Iya ini

Guru: Kalian bodoh!!!!

Murid: Kami pintar

Guru: Diaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaamm!!!! (geram)

Murid: Ribut

Guru: Mati aku *&#*$&#*?? (panik)

Murid: Hidup kamu

Guru: Besok kalian saya hukum

Murid: Kemaren kami tidak dihukum

Guru: (Pingsan)

Murid: (Bingung mau mencari lawan pingsan)

Bahasa Cina yang paling dasar (BODOH)

Dari Wakakapedia, ensiklopedia humor bebas berbahasa Indonesia.

Ini pelajaran bahasa Cina yg paling dasar (BODOH).
Bahasa cinanya lantai licin yaitu LICINTONG
Bahasa cinanya supermarket yaitu KELONTONG
Bahasa cinanya makan orang Indonesia yaitu LONTONG
Bahasa cinanya pusar yaitu BODONG
Bahasa Cinanya umbi-umbian yaitu SINGKONG
Bahasa Cinanya lobang yaitu KOLONG
Bahas Cinanya keseret ombak yaitu TOLONG!

Ayah yang pintar

Dari Wakakapedia, ensiklopedia humor bebas berbahasa Indonesia.

Seorang bapak memarahi anaknya sehabis menerima rapor.
“Kok nilai rapor mu merah semua padahal teman-temanmu nilainya bagus, kenapa???!!”
Si anak diam.
“Ayo jawab!” Kata sang ayah.
Kemudian dengan santai sang anak menjawab,
“Karena ayah mereka pintar-pintar”

 

(Humor) Pendidikan Anak

Sore hari, 2 orang ibu sedang bercengkerama di depan rumah mereka sambil menyuapi anaknya masing-masing. Terjadi perbincangan yang cukup serius mengenai pendidikan anak-anak mereka.

Bu Paijo: “Bu, anaknya kok belum masuk PAUD, bukannya sudah 3,5 tahun umurnya?

Bu Paiman: “Wah, nggak sekarang lah, Bu. Dia belum cukup umur masuk PAUD”.

Bu Paijo: “Belum cukup umur gimana? Anak saya saja umur 3 tahun sudah masuk PAUD”.

Bu Paiman: “Lha, PAUD kan kepanjangannya Pendidikan Anak Usia Dini, kan? Sedangkan usianya si Dini, anak Pak RT saja 4 tahun. Anak saya si Amir kan baru 3,5 tahun. Nanti kalau anak saya sudah seusia Dini, baru bisa masuk PAUD”.

Bu Paijo: (Ini Bu Paiman tadi malem salah makan apa yak? Tokek kali ya hihihi)

* * *

PS (Penjelasan Sithik): Cerita dan nama hanyalah fiktif belaka, jangan diambil hati, dibaca saja ya…. Dadah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s